Jalan – Jalan Ga Selalu Mahal kan?

Kapal merapat di pelabuhan Padang Bai sekitar pukul 14:00. Setelah pamitan dengan keluarga dan sebungkus nasi di genggamanku, aku berjalan ke dermaga dan naik ke kapal. Rintik hujan saat itu membawa awan hitam di tengah laut. Kapal mulai menjauhi dermaga pukul 14:15. Perjalanan dari Pulau Dewata ke Negeri Seribu Mesjid memakan waktu sekitar 4 jam. Perkiraanku akan sampai di pelabuhan Lembar sekitar jam 6:15. Pulau Bali semakin menjauhi kapal dan perlahan menghilang di hadapanku. Tertinggal bayangan gunung Agung dan gunung Abang yang berdiri dengan megah di belakang kabut. Sesekali kumenatap dalam ke laut, menanti hewan laut seperti yang bisa kulihat saat menyebrang ke Lampung. Namun hanya ada buih air yang terbentuk dari benturan kapal ke laut.

Kurang lebih 4 jam, kapal mendekati pulau Pedas itu. Namun antrian merapat ke dermaga memakan sekitar 1 jam. Laut dan langit saat itu sangat bersahabat. Awan hitam di tengah laut itu seperti menemani kapal. Malam itu saya sudah janjian untuk bermalam di rumah singgah Lombok. Beruntung saat saya ke sana, rumah singgah sudah dibuka kembali. Terima kasih mas Yonks, mamak dan bapak. Rusing Lombok menampung para traveller yang ingin singgah menyicipi manisnya kopi buatan mamak. Tentunya bukan hanya itu yah guys, kuy cek ig @rumahsinggahlombok untuk detilnya. Janjian dulu ya sebelum singgah. Malam itu bolehlah kita mendengar cerita mamak, bapak dan pejalan yang sedang singgah. Kata mamak, pejalan yang singgah ibarat anaknya yang pulang ke rumah.

Malam itu juga baru disusun itinerary untuk perjalananku selama di Lombok sampai 3,5 hari ke depan dengan menyewa motor. Plan esoknya akan ke 3 gili maskot pulau Lombok yaitu gili Trawangan, Meno dan Air. Gili artinya pulau kecil. Dan benar saja, dari dermaga Bangsal kita bisa melihat 3 gili berderetan, dari pulau terbesar dan terjauh gili Trawangan, disusul gili Meno dan gili Air. Dari rusing ke dermaga Bangsal sekitar 2 jam dan akan melewati pinggiran laut dan hutan. Di beberapa daerah, akan terlihat banyak monyet yang nongkrong di tepi jalan yang menunggu diberi makan. Sampai di dermaga sekitar jam 9. Di sana tersedia parkiran kendaraan, jadi bisa kita inapkan jika akan menginap di Gili.

Bersyukur cuaca pagi itu cukup cerah karena sempat beberapa hari yang lalu selalu hujan. Dermaga terlihat ramai dan asiknya lagi semua informasi kapal dari jadwal dan biaya sangat jelas. Kami putuskan untuk menginap di Trawangan karena lebih ramai dan tentunya lebih banyak penginapan yang harganya terjangkau. Perjalanan sekitar 30 menit dengan menggunakan kapal kayu. Kapal sudah dibagi sesuai warna tiket dan tujuan, dan kapal akan berangkat setelah penuh penumpangnya. Tidak menunggu terlalu lama, kami pun menyebrang ke gili.

Sampai di Trawangan sekitar jam 10:00 dan wisatawan wajib registrasi menggunakan ID seperti KTP. Dari bibir pantai berjejer penginapan dan restoran/ bar/ cafe. Kita bisa juga belajar dan mengambil license menyelam di gili ini. Tepat jam 10:30 tersedia kapal umum untuk hoping island ke gili Meno dan Air. Banyak informasi dan tempat yang menjual tiket hoping island ini. Lewat dari jam 10:30, kita masih bisa menyewa kapal private untuk hoping island 3 gili. Kami membeli tiket di tempat penginapan kami yang sudah include makan siang di gili. Tiket juga termasuk penyewaan 2 item seperti fin, pelampung dan snorkel. Sedikit tips, bawalah barang-barang yang hanya akan digunakan untuk snorkeling/ diving. Minuman sudah tersedia di kapal.

Hoping island di 3 gili akan membawa kita melihat alam bawah laut Lombok. Di gili Air kita akan melihat lebih banyak ikan. Biasanya kita bisa memberi roti untuk memancing ikan mendekati kita. Paket ini juga berhenti di taman bermain penyu. Info guide, yang bisa berenang bisa mengikutinya ke tengah laut untuk melihat penyu. Untuk melihat penyu, tidak segampang perkiraanku karena harus menyelam sekitar puluhan meter. Jadi saya hanya melihat dari atas, namun tetap tidak terjangkau penglihatan. Harus latihan lagi nanti biar ke depannya lebih leluasa untuk menyelam. Trip akan berakhir sekitar pukul 15:00 – 16:00.

Jadi, liburan singkat di Lombok sangat jelas informasinya dan seperti kata mas Yonk bahwa jalan-jalan ga selalu mahal kan? Berikut pengeluaran biaya dengan harga di Desember 2016:
– Kapal Ferry dari Padang Bai ke Lembar berangkat setiap 1 jam sekali dan beroperasi 24 jam. Tiket saat itu, Desember 2016 seharga 40.000.
– Sewa motor per hari 70.000.
– Parkir motor inap 1 malam 15.000.
– Tiket kapal Bangsal-Trawangan dan sebaliknya @ 15.000. Kapal tersedia setiap pagi jam 8:00.
– Paket hoping island 3 gili dan lunch 120.000.
– Homestay standar berkisar 100.000 – 250.000.

Advertisements

JALAN HIDUP

              Subuh, Badan seakan tidak mau beranjak dari nikmatnya Pulau Kapuk. Ingin terus terbuai dalam mimpi yang sangat menyenangkan diri. Perjalanan tetap harus terus berjalan kalau tidak bisa dikalahkan oleh Ibu-Ibu yang akan mendayung perahunya di Sungai Martapura. Yap, Ibu-ibu R**I OKE akan segera berjualan untuk mencukupi kebutuhannya.

              Pasar terapung yang mulai termakan oleh zamannya dan terusik oleh kemajuan dunia modern, seakan menunjukkan bahwa semua ada waktunya di dalam kehidupan yang fana ini. Kehidupan yang diberikan adalah anugerah yang selalu harus disyukuri dan tentunya harus dijalani. Namun, apakah semua akan sesuai harapan dan apakah akan statis saja dengan keadaan yang sama? Tidak mungkin! Perubahan itu pasti, tapi tidak semua perubahan dianggap sebagai kesempatan untuk maju.

              Perubahan merupakan satu hal yang tidak mungkin tidak terjadi, sepertinya tubuh ini, setiap detik terjadi perubahan untuk melakukan perkembangan dan juga mengatur metabolisme tubuh. Layaknya, Ibu-ibu yang mendayung di Pagi hari untuk berjualan di Sungai Martapura tersebut pasti mengharapkan terjadinya perubahan. Hal yang pasti mereka harapkan ketika mengayuh adalah Barang Dagangannya harus habis. Pasti tujuannya untuk makan dan juga untuk biaya primer lainnya.

              Jalan Hidup, Ibu-ibu tersebut dan juga Saya di Subuh tersebut pasti berbeda, saya ingin menangkap Indahnya suasana pagi di Sungai tersebut, Ibu tersebut ingin berjualan. Sungguh sudut pandang dan perjalanan hidup yang sangat berbeda, tapi apakah keduanya sama-sama bahagia? Belum tentu, di kisah yang lain, mungkin ketika sama-sama ingin menuju ke suatu tujuan yang sama, satu dapat bahagia, sedangkan yang lain tidak. Meskipun, Alasan dan tempatnya sama.

              Perjalanan hidup seorang yang mengikuti norma-norma dan ajaran agama yang ada dengan benar, pasti juga mendapatkan tantangan dan ujian. Kenapa? Justru itulah gunanya ajaran yang telah dia terima baik dari Kitab Suci maupun dari Panduan laiinya, yaitu Untuk Kuat melewati Kehidupan. Tidak ada kehidupan yang tanpa hambatan, tapi ada kehidupan yang selalu memiliki solusi dan damai sejahtera.

              Jadi, Jangan menggangap perjalanan hidup Anda adalah sesuatu musibah tapi semuanya itu adalah Karunia! Hidup adalah untuk memberkati orang lain.

Seperti Ibu Pedagang di Pasar Lok Baintan yang mengayuh bersama 3 bakul Buah untuk berjualan sejak subuh hari, seperti itulah semangat kalian wahai Jiwa-jiwa penuh karunia!

Hidup adalah Perjalanan

MENGGAPAI IMPIAN

                 Impian adalah suatu angan atau suatu target yang ingin dicapai di dalam suatu fase hidup, yang bisa dikejar sejak dini atau maupun baru dikejar di akhir hayat. Keberhasilan mencapai impian tidak bisa diukur dari umur seseorang, tapi usaha dan komitmen. Suatu Restoran yang terkenal di Dunia, yaitu KFC, tidak tercipta dari seorang anak muda ataupun seorang pria yang ada dalam umur produktif, tapi diciptakan oleh seorang Kakek. Kakek yang terkenal dengan jenggot putih dan ayam crispy-nya.

                 Mau Ayam Original atau Crispy? Ayam Original seperti ayam yang mulus tanpa retak-retakan tepung, sedangkan Crispy adalah Ayam yang dilapisi oleh remah-remah tepung. Seperti hidup, apakah anda memilih yang mulus saja atau penuh retak-retak atau jalan yang kasar? Harapannya pasti yang mulus. Tapi apakah ada orang sukses yang berhasil karena jalan yang mulus?

                 Sebagian dari kita, hanya melihat kesuksesan seseorang ketika dia sudah mencapai Langit. Jarang sekali diperhatikan bagaimana tangga yang telah dia bangun untuk mencapai langit tersebut. Tangga tersebut sudah melewati Angin kencang, Hujan, bahkan teriknya matahari, hingga kehilangan Oksigen di atmosfer. Oleh karena itu, banyak orang sukses menceritakan kesuksesan mereka, namun disertai bagaimana mendapatkannya. Bagian paling menarik adalah bagaimana jatuh bangun, tangisan, dan penolakan yang telah dialami.

                 Biarkan Impianmu berada sekitar 5 cm di atas dahimu! Begitu suatu ungkapan dalam suatu film Indonesia yang sangat terkenal. Impian memang harus terus menjadi tatapan masa depan, jadi selalu ada di depan. Tatapan kebelakang adalah tatapan pengalaman, yang hanya sekilas saja perlu dilakukan. Tatapan ke samping adalah strategi untuk mengatasi masalah. Tatapan – tatapan tersebut lah yang mengakibatkan impian dapat diraih.

                 Lalu, apa yang dilakukan ketika sudah diraih? Jangan lupa, ada Tatapan ke Bawah dan Ke Atas yang perlu dilakukan juga. Tatapan ke bawah yang berarti tatapan untuk peduli terhadap sesame, sedangkan Tatapan ke atas berarti tatapan syukur kepada Tuhan.

                 Impian harus diraih, namun hal tersebut harus sesuai dengan Kehendak-Nya. Jika sudah sesuai kehendak-Nya, harus disertai dengan Iman yang kuat dan perbuatan yang baik.

                 Seperti halnya sebuah Kereta Gantung yang melewati Kabut Tebal, tujuan sudah ditentukan. Namun, terkadang pandangan ke depan tertutup rasa khawatir. Sebagai seorang pemenang, tujuan yang sudah ditentukan tinggal dijalani saja, dan tidak perlu takut tidak sampai, asalkan tenaga yang diberikan selalu ada.

                 Kabut yang tebal, tidak dapat menutupi Gedung-Gedung yang besar. Masalah, Kekhawatiran, dan Ketakutan tidak dapat menutupi Impian yang besar. Jadi, tidak akan ada yang bisa menghalangi anda menuju Impian Anda, jika bukan Anda sendiri yang menghalanginya.