Berjalan Seiring Waktu

Kereta melaju kencang di hadapanku, meninggalkan angin dan sedikit debu menampar wajahku. Waktu masih menunjuk di menit 45. Rasanya jadwal kereta di stasiun ini adalah 7:45, mengapa di menit 45 juga kereta sudah menancap gas dan membunyikan klaksonnya yang terdengar sampai di ujung lorong meninggalkan stasiun ini? Ataukah waktuku dan dia terpaut beberapa detik sehingga kami tidak akan pernah selaras, selalu bertengkar dan meributkan hal sepele yang nyatanya adalah perbedaan waktu itu? Atau ada alasan lain dibalik semua keributan ini?

Rasanya cukup lelah memikirkan waktu itu. Waktu yang seakan tak mungkin kukejar. Tapi jika dipikir kembali seberapa berharganya waktu itu? Bukankah fokus apa yang kukerjakan saat ini lebih berharga? Karena apa yang kukerjakan sekarang yang menentukan arah kedepannya. Bukan ramalan ataupun pemikiran orang lain yang mengarahkan masa depanku. Beberapa orang mengatakan bukan seberapa lama kita hidup di dunia ini untuk menentukan kualitas hidup kita namun seberapa banyak hal baik yang telah kita lakukan.

Apa yang terjadi jika aku berhasil naik ke kereta tadi? Bukan berarti waktu kami akan sama dan tidak akan ada pertikaian. Semuanya tergantung tindakanku terhadap suatu masalah. Aku bisa mengarahkannya menjadi lebih baik atau bahkan memperburuknya. Apakah aku sudah memikirkannya dengan matang sebelum bertindak? Waktu itu layaknya pikiran yang sama-sama adalah benda abstrak, tidak berwujud, yang agak sulit dikontrol dan digapai. Tapi tidak semua hal harus aku pikirkan juga. Lebih baik aku melepaskannya, membiarkannya mengalir. Fokus untuk saat ini, di mana ketika kumerasa tidak ada yang sedang dilakukan namun kubisa menilik diriku sendiri bahwa ku sedang bernafas dan itulah yang harus kusadari saat ini.
Jangan terlalu menuntut lebih dirimu ketika kau rasa itu adalah yang paling maksimal.

Waktu itu adalah uang. Mungkin benar buat para pekerja yang menghabiskan waktunya di tempat kerja untuk menumpukkan pundi uangnya. Namun ku lebih memihak untuk berdiri di sini, berjalan seiring dengan waktu, memilih berdamai dengan diriku sendiri. Mengumpulkan pengalaman dan pelajaran sebanyak kemampuanku di masa ini. Jikapun itu tidak sesuai harapan, kubiarkan waktu juga yang walaupun perlahan tapi pasti mengobati luka yang pernah tergores itu. Kelak semuanya akan indah pada waktunya.

Dikala senja menyapa kuberharap ku tak takut lagi, kubiarkan perasaan itu terbenam bersama mentari.