Menunggu Layaknya Bambu

Kunanti derap kaki di koridor kosong dan gelap itu. Harap cemas penantian ini akan berbuah sia-sia. Apakah sudah cukup di sini penantianku? Toh ini tidak akan ada hasil yang bisa memuaskanku. Atau apakah usahaku kurang panjang dan tetap melanjutkan apa yang sudah kuperjuangkan? Mungkin dengan sedikit perubahan sehingga kubisa lebih berkreatif dan tidak merasa bosan. Namun sebenarnya bukan aku yang berubah, ku masih seperti dulu. Yang berubah adalah pemikiranmu terhadap objek tersebut.

Menanti adalah hal yang tidak disukai banyak orang. Ketika menunggu temanmu yang lama, menunggu bus yang tak kunjung datang sementara kamu sudah telat ke kantor, menunggu antrian panjang di jalanan macet Jawa. Yang bisa dilakukan adalah bukan mengeluh, kamu bisa membaca, menulis, belajar kosa kata baru di luar bahasa ibu, mendengar musik, dan sebagainya.

Namun bagaimana jika kondisinya adalah menunggu orang terkasih yang sedang terbaring di ranjang putih itu? Yang bisa dilakukan adalah berdoa dan mengharapkan yang terbaik. Tentu akan berbeda perlakuannya jika kita dihadapkan pada ujung dunia ini. Penantian mulai berevolusi menjadi perasaan menyesal, menyalahkan diri sendiri, berpasrah akan hukum alam dan lebih mendekatkanku kepada keyakinanku. Ia juga merubah cara berpikir dan berprilaku, tanpa disadari akan tumbuh lebih dewasa. Namun apakah masih ada kesempatan untuk berubah?

Terlalu lama menyalahkan diri akan penantian yang digunakan untuk hal yang tidak berguna. Tidak akan ada perubahan jika yang dilakukan hanya menunggu. Diriku sendiri yang dapat merubah langkah ke depanku.

Lebih baik terlambat memulai daripada tidak memulainya sama sekali. Menunggulah seperti pohon bambu yang walaupun daun dan rantingnya tidak akan bercabang ke samping dan mengganggu tanaman di sekitarnya namun ia akan tetap tumbuh menjulang ke atas.

Advertisements

MENUNGGU JAWABAN

            Pelajaran dalam hidup yang akan melatih kesabaran adalah Menunggu. Menunggu sesuatu dapat menjadi semangat juga dalam hidup, jika sudah pasti akan didapatkan atau terjadi. Namun, jika menunggu sesuatu yang belum pasti? Perlu kesabaran pastinya!

            Doa merupakan suatu ungkapan syukur kita kepada Tuhan dan juga kesempatan untuk meminta atau memohon kepada yang Maha Kuasa. Doa dapat dijawab langsung, ditunda, atau bahkan tidak dijawab tergantung Sang Pemilik Hidup. Ketika Doa tersebut tidak dijawab secara langsung, iman dan kepercayaan kadang menjadi goyah. Pastinya, Manusia ingin semua Doa yang disampaikan dapat diwujudkan karena menurut si pendoa, hal yang didoakan adalah yang terbaik buat dirinya.

            Hal yang lainnya, menunggu jawaban dari Manusia, seperti menunggu jawaban cinta dan menunggu janji seseorang, merupakan hal yang sangat menguras energi. Ditolak cinta atau tidak ditepati janji, pasti hal yang sangat dihindari. Namun, berbicara dengan jawaban dan waktu yang berhubungan dengan Manusia sebenarnya sangat sulit untuk diprediksi, karena hati seseorang siapa yang tau?

            Kedua contoh hal tersebut dalam hal menunggu, baik dari Tuhan atau Manusia adalah suatu rangkaian hidup yang pasti terjadi. Kesemua itu berhubungan dengan kepercayaan dan harapan. Kepercayaan kita kepada Tuhan dan manusia dapat mengecewakan, namun jika kita menggantukan semuanya dalam suatu kekuatan harapan, pasti akan menenangkan. Menunggu sesuatu harus diikat dengan harapan, Harapan adalah sesuatu kekuatan yang paling kuat di dunia ini karena menjadi kekuatan bagi pribadi yang memiliki. Berbeda dengan ekspektasi, di dalam suatu harapan terdapat kepasrahan sehingga segala sesuatu yang terjadi akan selalu diterima.

            Jadi, menunggu sesuatu yang baik dapat dijadikan suatu kekuatan dalam hidup, jika proses tersebut terdiri dari kepasrahan dalam jawaban yang akan terjadi dalam suatu bentuk kekuatan, yaitu Harapan. Harapan juga harus terus mengalir, seperti sungai yang tak pernah kering walaupun kondisi cuaca terus berubah.