TATAPAN MASA DEPAN

            Wanita merupakan Ciptaan Tuhan yang sangat Indah dan dipuja-puja oleh Pria sebagai Teman Hidup. Sebagai tulang rusuk yang hilang, wanita merupakan penentu dalam suatu keluarga. Pria yang sukses selalu memiliki seorang wanita yang selalu berdoa untuk kesuksesannya.

            Salah seorang wanita ternama di Indonesia adalah Raden Adjeng Kartini. Anak dari Bupati Jepara pada jamannya ini, juga merupakan keturunan Bangsawan Jawa. Kartini memberikan pengaruh besar melalui tulisan-tulisan suratnya yang kemudian dirangkum menjadi Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya” atau yang lebih terkenal sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

            Terang yang sangat berdampak bagi orang banyak terutama Wanita dalam melakukan emansipasi wanita. Ada kekuatan wanita yang tidak dapat dimiliki oleh Seorang Pria, oleh karena itu sentuhan wanita sangat dibutuhkan di setiap segmen hidup, terutama dalam memancarkan kasih sayang.

            Pribadi yang anda memiliki sekarang ini merupakan hasil dari perjuangan darah seorang wanita, yaitu Ibu. Kasih sayang yang diberikan kepada Anda hanya semata-mata untuk memberikan Masa Depan Anda yang lebih baik dari Dia.

            Tatapan Masa Depan yang Ibu harapkan ke Anda, merupakan Kasih Sayang Tuhan yang dipancarkan melalui Manusia. Jika Anda adalah Wanita, apakah Anda tidak merasakan Karunia yang Tuhan berikan?

            Jangan pandang Masa Lalu Anda jika memang buruk, pandanglah tujuan hidup Anda di dunia Ini. Anda diciptakan untuk melengkapi suatu hubungan, untuk menunjukkan kasih sayang, dan sudah pasti menjadi berkat. Jadi jangan sampai ada orang yang menghalangi anda untuk melakukan hal tersebut. Pakai diri Anda semaksimal mungkin, karena hidup anda tidak ada istilah “Continue?” jika sudah meninggal.

            Ingat, Sehabis Gelap adalah Terang dan Sehabis Badai adalah Pelangi. Menarilah dalam Hujan karena itu merupakan Karunia Tuhan yang kita patut nikmati. Jangan bilang Anda sudah terlambat, Kartini saja hanya hidup 25 Tahun di Dunia ini, namun sudah memberikan dampak yang luar biasa, Apalagi Anda yang masih diberikan hidup Panjang!!

Bangkitlah wahai Wanita yang Cantik! Anda adalah semangat Dunia!

Advertisements

Dari Kegelapan Menuju Cahaya

Aung San Suu Kyi, dari negara tetangga, Myanmar, dengan gelar “The Lady” menerima penghargaan nobel perdamaian atas perjuangannya. Suu Kyi memajukan demokrasi di negaranya tanpa kekerasan yang menentang rezim militer. Kisah lainnya dari negeri yang terkenal akan dunia perangnya, Pakistan. Malala Yousafzai, gadis belia yang tumbuh di bawah pemerintahan Taliban. Murid sekaligus aktivis pendidikan dan aktivisme hak-hak perempuan di negaranya. Wanita-wanita ini hidup di lingkungan serba terbatas bagaikan sekuntum bunga yang mekar di semak belukar. Keberanian dan semangat juang yang membuat mereka tumbuh subur.

Tak tertinggal kisah dari bumi pertiwi, tanah air yang kucintai, Indonesia. Menilik kembali sejarah salah satu pejuang wanita di Indonesia, Raden Ajeng Kartini, kelahiran Jepara, Jawa Tengah yang juga memberikan kesan mendalam dibalik sosok lemah lembutnya. Jujur saja hati ini terketuk kembali. Dari bangku sekolah sudah diperkenalkan perjuangannya di pelajaran sejarah namun saat itu hanya sebatas hapalan agar dapat nilai bagus. Setelahnya tidak ada makna yang terserap. Memperingati hari Kartini tiap tahun dan menyanyikan lagunya namun jika tidak memahami semangat beliau rasanya kurang pantas bagi seorang wanita Indonesia yang menerima pendidikan tinggi dengan bebas di era ini. Hal ini berlaku bagi saya.

Singkat cerita, Kartini berasal dari kalangan priyayi, bangsawan Jawa. Putri mulia yang berhasil mengenyam pendidikan sampai umur 12 tahun. Kepiawaiannya berbahasa Belanda membawa ia mengenal cara berpikir wanita-wanita modern Eropa yang mempunyai hak sama dengan kaum Adam. Kartini kerap berkorespondensi dengan teman-temannya di Belanda. Tersirat perempuan Indonesia dengan status sosial yang rendah, beliau memperjuangkan wanita Indonesia untuk mendapat kebebasan dan persamaan derajat memperoleh pendidikan. Kecintaan dan kepatuhannya pada kedua orangtuanya, ia dipingit di umur 24 tahun dan meninggalkan cita-citanya untuk melanjutkan studi di Belanda. Tidak patah semangat dan beruntung suami Kartini mendukung cita-citanya. Akhirnya berdirilah sekolah Kartini di Rembang. Kartini meninggal di usia muda 25 tahun. Setalah wafat, surat-surat Kartini dibukukan dengan judul “Door Duisternis tot Licht” yang artinya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.

Selain melahirkan semboyan “Habis gelap terbilah terang“, masih banyak nasehat Kartini dalam buku maupun suratnya yaitu:

–  Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni.

– Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan rasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri.

– Lebih banyak kita maklum, lebih kurang rasa dendam dalam hati kita. Semakin adil pertimbangan kita dan semakin kokoh dasar rasa kasih sayang. Tiada mendendam, itulah bahagia.

– Saat suatu hubungan berakhir, bukan berarti 2 orang berhenti saling mencintai. Mereka hanya berhenti saling menyakiti.

– Ikhtiar! Berjuanglah membebaskan diri. Jika engkau sudah bebas karena ikhtiarmu itu, barulah dapat engkau tolong orang lain.

Sudah lebih mengenal ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia kan? Berpanduanlah akan semangat dan kegigihan Kartini.