SENDIRI TAPI RAMAI

              Sebuah perjalanan pasti punya ceritanya masing-masing, seperti kisah perjalanan Errol berikut. Sebagai Seorang Pengembara, Perjalanan pasti selalu akan dipilih dengan bersama atau hanya seorang diri. Perjalanan ini saya lalui dengan seorang diri, namun hanya awalnya saja.

              Pukul 22.00 WIB, saya tiba di Terminal Bondowoso, seorang diri. Sudah larut malam, sudah pasti tertinggal Angkutan terdekat yang dapat mengantarkan saya ke tujuan, yaitu Gunung Ijen. Sejenak berhenti di pinggir terminal, mencari cara untuk dapat menuju Paltuding (titik awal pendakian Gunung Ijen). Kemudian, Saya melihat seseorang Bapak dan Keponakannya di pinggir jalan dan kemudian saya bertanya untuk menuju Paltuding. Tanpa disangka, Kami satu kampung, lalu mulai lah kami berbincang dengan Bahasa Daerah. Lalu, Naek Ojek merupakan solusinya, Ojek tersebut dipesankan oleh Bapak tersebut, bukan pakai Aplikasi Online, karena belum ada.

              Sebesar Rp 160.000 keluar dari dompet saya yang tipis seperti oksigen yang mulai menipis, untuk menuju Paltuding. 2.5 Jam perjalan dilalui dengan Sepeda Motor, yang tenaganya seperti Kakek-kakek. Tas yang besar menjadi beban juga ketika duduk di motor bebek tersebut. Rasa Panas di Bokong dan Dingin di Kaki, bercampur aduk selama perjalanan tersebut. Pukul 01.30 WIB, sampai juga di Paltuding, yang sangat sepi. Saya pun beristirahat hingga pukul 03.00 WIB, lalu memulai pendakian ke Puncak Ijen dan melihat Blue Fire.

              Tas sebesar 75 Liter pun menemani Saya mendaki bersama dengan Turis lainnya. Istirahat yang kurang optimal, mengakibatkan saya harus banyak berhenti selama 1 jam awal. Udara dingin dan Oksigen yang tipis tidak menghalangi saya, untuk melihat Blue Fire. Akhirnya dengan perjuangan yang gigih, Saya dapat mengambil Gambar Cahaya Biru nan Cantik. Cahaya yang menjadi incaran para turis yang mengunjungi Ijen.

              Saya memang sendiri menuju puncak, namun Saya mengikuti rombongan Tiga Orang Bapak-Bapak. Rombongan tersebut dipandu oleh satu orang Guide. Saya berbicara banyak kepada Guide tersebut ketika dia sedang menunggu Bapak-Bapak tersebut mengambil Gambar. Seorang yang ramah dan juga yang banyak menceritakan saya tentang Bagaimana perjuangan seorang penambang Belerang. Penambang Belerang akan Anda temui ketika mendaki Ijen dan Anda mungkin akan menggelengkan kepala melihat beban dan jarak yang harus ditempuh. Sebuah penghasilan yang didapatkan dengan mengorbankan banyak tenaga.

              Saya sempat juga berbicara dengan seorang Penambang Belerang, yang memiliki bentuk pundak yang sangat unik. Pundak tersebut terbentuk sebagai hasil beban yang dipikul setiap harinya, 60-80 KG. Kulit Pundaknya menebal dan menjadi kuat sekali. Siapa disangka, Penambang tersebut bercerita bahwa harus memijat tubuhnya dua hari sekali. Wajar saja menurut saya, karena dengan beban tersebut dan frekuensi pengambilan tambang sekitar 1-2 kali dengan jarak 3 KM dari Paltuding ke Kawah Ijen, pasti akan memakan tubuh. Penambang tersebut memberikan sebuah pelajaran dalam hidup jika kita banyak mengeluh, bahwa Semua Orang punya masalah sendiri-diri, selama kita banyak mengeluh coba lihat kehidupan Orang lain yang mungkin lebih keras dari kita, sehingga kita dapat bersyukur kepada Tuhan dengan hidup yang ada.

              Setelah menikmati Keindahan Ijen, maka Pulang dari Paltuding menjadi pemikiran saya selanjutnya. Selama perjalanan turun dari Kawah Ijen, saya tetap bersama dengan Rombongan Tiga Bapak-bapak. Suasana pun menjadi sangat akrab, saya banyak bercerita dengan mereka. Mereka pun heran kenapa saya bias sendirian saja ke sana. Saya pun menjawab: “Perjalanan sendiri memiliki pengalaman yang sangat berbeda dan tidak dapat dilupakan”. Namun, Perjalanan sendiri tersebut tidak menimbulkan perasaan bahwa saya sendiri, karena banyak orang-orang yang menemani saya selama perjalanan. Bapak-bapak itu pun, menawarkan saya untuk pulang bersama dari Ijen dan mengantarkan Saya hingga terminal Ijen, agar saya dapat melanjutkan perjalanan. Hal yang terutama adalah Gratis! (hehehe)

              Perjalanan sendiri ini sangat menarik, menantang, memberikan Saya banyak Teman Baru tanpa diduga, dan sama sekali tidak memberikan kesendirian tapi keramaian. Perjalanan ini juga dihadiahi dengan Jempol oleh Bapak Guide tadi, yang sangat banyak memberikan Cerita tentang Ijen.

Jangan takut untuk melangkah sendiri, karena Anda tidak pernah sendiri, Tuhan selalu ada bersama Anda.

 

Advertisements