Puasa, Nafsu dan Bersyukur

Senja yang terlukis di langit kemerahan mulai mendekap hamparan sawah yang kekuningan. Sebagian warna biru langit mulai bercampur dengan warna senja dan sawah, sungguh lukisan yang sempurna. Lukisan ini sering terlukis dan diperhatikan ketika berpergian menggunakan kereta. Saatnya temen-temen muslim untuk berbuka puasa. Perjuangan sehari itu patut dirayakan. Setelah berbuka, tidak lupa mengucap syukur dan mulai berkumandangkan doa. Pemandangan yang syahdu, berdoa bisa dilakukan di mana saja.

Puasa bisa berarti menahan diri atas sesuatu. Misalnya puasa makan maka ia sedang melatih diri untuk tidak makan. Mungkin menahan diri untuk tidak makan masih sanggup dilakukan. Namun dibalik itu, ujian sebenarnya adalah menahan nafsu. Tidak makan adalah aktivitas nyata sementara nafsu yang berhubungan dengan emosional seseorang yang dapat menyebabkan hasrat atau keinginan agak menjadi tantangan. Bukan karena lapar ia makan, namun ia tergoda akan nafsu. Kita harus berpegang teguh pada pendirian agar tidak tergoda nafsu tersebut. Akan tetapi nafsu bukan berarti hal negatif. Sesuatu yang masih pada takarannya maka ia mendatangkan kebaikan/ hal positif.

Dengan adanya nafsu tersebut artinya kita masih dalam keadaan sehat, karena masih punya nafsu makan maka sistem tubuh masih beroperasi normal. Selain nafsu, dengan berpuasa, kita belajar mensyukuri. Kita akan lebih menghargai setiap makanan yang dihidangkan. Setiap makanan akan terasa lebih bernilai/ bermakna ketika kita menjalankan puasa makan yang tadinya dibatasi. Selain makanan, kita juga bisa belajar berpuasa atas hal lainnya.

Jadi, dengan berpuasa akan menuai banyak manfaat dari melatih diri, menahan nafsu, bersyukur dan menghargai. Yuk puasa!!!