Si hitam itu selalu mengejarku. Kuberlari semakin cepat, semakin cepat juga ia menyusulku. Ketika di depan dihadang jalan bercabang, kupilih lorong gelap itu. Berharap bisa sembunyi dan beristirahat sejenak. Dan benar, tiba-tiba ia hilang ketika saya masuk lorong gelap itu. Perlahan tak terdengar derap kakinya lagi. Apakah ia sama denganku yang takut akan lorong gelap?

Pernahkah ku kejar impianku layaknya bayangan yang selalu mengejarku? Rasanya sudah lama kuterbenam di tempat ini yang begitu nyaman. Hasrat itu tidak sekuat ketika kududuk di bangku perpustakaan kampus. Begitu banyak impian dan keinginan yang bertandang di to-do list. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Namun kaki ini masih berdiri di tempat.

Kutermenung cukup lama dan rasanya harus kusudahi istirahat ini. Kucoba bangun namun beberapa kali kuharus duduk kembali sebelum bisa berdiri dengan mantap. Otot ini sudah mulai kaku karena kurangnya aliran darah ketika istirahat panjang tadi. Kulihat ke belakang apakah sosok hitam itu sebenarnya masih mengejarku. Kurangnya pencahayaan di lorong itu menghalau penglihatanku. Kuberanikan diri melangkah keluar lorong dan menghirup udara segar sedalam-dalamnya. Seketika kusadari sosok hitam yang mengejarku adalah bayanganku sendiri.

Tiap awal tahun, aku set lagi tujuan yang akan kukejar. Melihat beberapa goal tahun sebelumnya membuatku tidak berdaya. Cukup sudah, waktu juga tidak akan menungguku. Saatnya mengejar, seiring umurku yang bertambah semakin terbatas beberapa kesempatan yang tersedia. Kaki ini sudah siap melangkah ke depan dengan mantap. Pengorbanan sebelum mencapai impian sudah cukup membuatnya berharga.

Setidaknya ku mulai bergerak karena bayanganku di danau itu bukanlah sosok hitam yang kutakuti.