BERLARI TAK DIKEJAR

Kemana Tujuan Anda? Sudah tau atau masih dalam pencarian? Mencari tujuan hidup tidak dapat dengan mudah ditentukan, tentu saja dengan banyak proses. Lahir dengan tubuh yang sempurna belum tentu menuntun ke dalam kehidupan Sempurna. Hidup yang sempurna dapat dicapai dengan proses hidup yang baik.

Bernapas adalah salah satu awal pelajaran kita dalam kehidupan lalu disambung dengan melihat dan berbicara. Mama dan Papa mungkin kata pertama yang keluar dari mulut anda. Selanjutnya, anda diperkenalkan dengan cita-cita, teladan, dan lingkungan.

Seorang Anak Raja belum tentu menjadi seorang Raja nantinya, apalagi Seorang biasa. Namun, kita semua dilahirkan untuk menjadi Raja, hanya perjuagan dan harapan yang menjadikan kekuatan untuk mencapainya.

Namun, cita-cita yang telah kita ucap sejak kecil kepada Orang Tua dan kepada teman-teman di sekolah, dapat berubah dalam berjalannya waktu. Pengaruh lingkungan, pendidikan, dan kesuksesan orang lain, dapat menjadi Petunjuk Arah lain.

Tidak dapat dipungkiri, rumput tetangga selalu hijau. Yap, hal hijau tersebut menjadikan langkah kita ingin berpindah ke gang atau jalur yang lain. Hasilnya bisa baik dan juga buruk. Memandang rumput yang hijau terkadang tidak dibarengi dengan proses pertumbuhannya, yaitu melawan parasit, hujan, badai, dan sengatan matahari. Hasil akhir yang selalu dilihat.

Seperti berlari namun dikejar rasa ingin seperti orang lain yang belum tentu sama jalan hidupnya. Anda diciptakan pasti dengan tujuan yang berbeda-beda, tentu saja dengan jalan yang berbeda-beda.

                 Jadi, berlarilah dalam arenamu sendiri, dan istirahatlah sejenak untuk mengevaluasi, dan menolehlah terus ke depan.

Jalan – Jalan Ga Selalu Mahal kan?

Kapal merapat di pelabuhan Padang Bai sekitar pukul 14:00. Setelah pamitan dengan keluarga dan sebungkus nasi di genggamanku, aku berjalan ke dermaga dan naik ke kapal. Rintik hujan saat itu membawa awan hitam di tengah laut. Kapal mulai menjauhi dermaga pukul 14:15. Perjalanan dari Pulau Dewata ke Negeri Seribu Mesjid memakan waktu sekitar 4 jam. Perkiraanku akan sampai di pelabuhan Lembar sekitar jam 6:15. Pulau Bali semakin menjauhi kapal dan perlahan menghilang di hadapanku. Tertinggal bayangan gunung Agung dan gunung Abang yang berdiri dengan megah di belakang kabut. Sesekali kumenatap dalam ke laut, menanti hewan laut seperti yang bisa kulihat saat menyebrang ke Lampung. Namun hanya ada buih air yang terbentuk dari benturan kapal ke laut.

Kurang lebih 4 jam, kapal mendekati pulau Pedas itu. Namun antrian merapat ke dermaga memakan sekitar 1 jam. Laut dan langit saat itu sangat bersahabat. Awan hitam di tengah laut itu seperti menemani kapal. Malam itu saya sudah janjian untuk bermalam di rumah singgah Lombok. Beruntung saat saya ke sana, rumah singgah sudah dibuka kembali. Terima kasih mas Yonks, mamak dan bapak. Rusing Lombok menampung para traveller yang ingin singgah menyicipi manisnya kopi buatan mamak. Tentunya bukan hanya itu yah guys, kuy cek ig @rumahsinggahlombok untuk detilnya. Janjian dulu ya sebelum singgah. Malam itu bolehlah kita mendengar cerita mamak, bapak dan pejalan yang sedang singgah. Kata mamak, pejalan yang singgah ibarat anaknya yang pulang ke rumah.

Malam itu juga baru disusun itinerary untuk perjalananku selama di Lombok sampai 3,5 hari ke depan dengan menyewa motor. Plan esoknya akan ke 3 gili maskot pulau Lombok yaitu gili Trawangan, Meno dan Air. Gili artinya pulau kecil. Dan benar saja, dari dermaga Bangsal kita bisa melihat 3 gili berderetan, dari pulau terbesar dan terjauh gili Trawangan, disusul gili Meno dan gili Air. Dari rusing ke dermaga Bangsal sekitar 2 jam dan akan melewati pinggiran laut dan hutan. Di beberapa daerah, akan terlihat banyak monyet yang nongkrong di tepi jalan yang menunggu diberi makan. Sampai di dermaga sekitar jam 9. Di sana tersedia parkiran kendaraan, jadi bisa kita inapkan jika akan menginap di Gili.

Bersyukur cuaca pagi itu cukup cerah karena sempat beberapa hari yang lalu selalu hujan. Dermaga terlihat ramai dan asiknya lagi semua informasi kapal dari jadwal dan biaya sangat jelas. Kami putuskan untuk menginap di Trawangan karena lebih ramai dan tentunya lebih banyak penginapan yang harganya terjangkau. Perjalanan sekitar 30 menit dengan menggunakan kapal kayu. Kapal sudah dibagi sesuai warna tiket dan tujuan, dan kapal akan berangkat setelah penuh penumpangnya. Tidak menunggu terlalu lama, kami pun menyebrang ke gili.

Sampai di Trawangan sekitar jam 10:00 dan wisatawan wajib registrasi menggunakan ID seperti KTP. Dari bibir pantai berjejer penginapan dan restoran/ bar/ cafe. Kita bisa juga belajar dan mengambil license menyelam di gili ini. Tepat jam 10:30 tersedia kapal umum untuk hoping island ke gili Meno dan Air. Banyak informasi dan tempat yang menjual tiket hoping island ini. Lewat dari jam 10:30, kita masih bisa menyewa kapal private untuk hoping island 3 gili. Kami membeli tiket di tempat penginapan kami yang sudah include makan siang di gili. Tiket juga termasuk penyewaan 2 item seperti fin, pelampung dan snorkel. Sedikit tips, bawalah barang-barang yang hanya akan digunakan untuk snorkeling/ diving. Minuman sudah tersedia di kapal.

Hoping island di 3 gili akan membawa kita melihat alam bawah laut Lombok. Di gili Air kita akan melihat lebih banyak ikan. Biasanya kita bisa memberi roti untuk memancing ikan mendekati kita. Paket ini juga berhenti di taman bermain penyu. Info guide, yang bisa berenang bisa mengikutinya ke tengah laut untuk melihat penyu. Untuk melihat penyu, tidak segampang perkiraanku karena harus menyelam sekitar puluhan meter. Jadi saya hanya melihat dari atas, namun tetap tidak terjangkau penglihatan. Harus latihan lagi nanti biar ke depannya lebih leluasa untuk menyelam. Trip akan berakhir sekitar pukul 15:00 – 16:00.

Jadi, liburan singkat di Lombok sangat jelas informasinya dan seperti kata mas Yonk bahwa jalan-jalan ga selalu mahal kan? Berikut pengeluaran biaya dengan harga di Desember 2016:
– Kapal Ferry dari Padang Bai ke Lembar berangkat setiap 1 jam sekali dan beroperasi 24 jam. Tiket saat itu, Desember 2016 seharga 40.000.
– Sewa motor per hari 70.000.
– Parkir motor inap 1 malam 15.000.
– Tiket kapal Bangsal-Trawangan dan sebaliknya @ 15.000. Kapal tersedia setiap pagi jam 8:00.
– Paket hoping island 3 gili dan lunch 120.000.
– Homestay standar berkisar 100.000 – 250.000.

Si hitam itu selalu mengejarku. Kuberlari semakin cepat, semakin cepat juga ia menyusulku. Ketika di depan dihadang jalan bercabang, kupilih lorong gelap itu. Berharap bisa sembunyi dan beristirahat sejenak. Dan benar, tiba-tiba ia hilang ketika saya masuk lorong gelap itu. Perlahan tak terdengar derap kakinya lagi. Apakah ia sama denganku yang takut akan lorong gelap?

Pernahkah ku kejar impianku layaknya bayangan yang selalu mengejarku? Rasanya sudah lama kuterbenam di tempat ini yang begitu nyaman. Hasrat itu tidak sekuat ketika kududuk di bangku perpustakaan kampus. Begitu banyak impian dan keinginan yang bertandang di to-do list. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Namun kaki ini masih berdiri di tempat.

Kutermenung cukup lama dan rasanya harus kusudahi istirahat ini. Kucoba bangun namun beberapa kali kuharus duduk kembali sebelum bisa berdiri dengan mantap. Otot ini sudah mulai kaku karena kurangnya aliran darah ketika istirahat panjang tadi. Kulihat ke belakang apakah sosok hitam itu sebenarnya masih mengejarku. Kurangnya pencahayaan di lorong itu menghalau penglihatanku. Kuberanikan diri melangkah keluar lorong dan menghirup udara segar sedalam-dalamnya. Seketika kusadari sosok hitam yang mengejarku adalah bayanganku sendiri.

Tiap awal tahun, aku set lagi tujuan yang akan kukejar. Melihat beberapa goal tahun sebelumnya membuatku tidak berdaya. Cukup sudah, waktu juga tidak akan menungguku. Saatnya mengejar, seiring umurku yang bertambah semakin terbatas beberapa kesempatan yang tersedia. Kaki ini sudah siap melangkah ke depan dengan mantap. Pengorbanan sebelum mencapai impian sudah cukup membuatnya berharga.

Setidaknya ku mulai bergerak karena bayanganku di danau itu bukanlah sosok hitam yang kutakuti.

Menunggu Layaknya Bambu

Kunanti derap kaki di koridor kosong dan gelap itu. Harap cemas penantian ini akan berbuah sia-sia. Apakah sudah cukup di sini penantianku? Toh ini tidak akan ada hasil yang bisa memuaskanku. Atau apakah usahaku kurang panjang dan tetap melanjutkan apa yang sudah kuperjuangkan? Mungkin dengan sedikit perubahan sehingga kubisa lebih berkreatif dan tidak merasa bosan. Namun sebenarnya bukan aku yang berubah, ku masih seperti dulu. Yang berubah adalah pemikiranmu terhadap objek tersebut.

Menanti adalah hal yang tidak disukai banyak orang. Ketika menunggu temanmu yang lama, menunggu bus yang tak kunjung datang sementara kamu sudah telat ke kantor, menunggu antrian panjang di jalanan macet Jawa. Yang bisa dilakukan adalah bukan mengeluh, kamu bisa membaca, menulis, belajar kosa kata baru di luar bahasa ibu, mendengar musik, dan sebagainya.

Namun bagaimana jika kondisinya adalah menunggu orang terkasih yang sedang terbaring di ranjang putih itu? Yang bisa dilakukan adalah berdoa dan mengharapkan yang terbaik. Tentu akan berbeda perlakuannya jika kita dihadapkan pada ujung dunia ini. Penantian mulai berevolusi menjadi perasaan menyesal, menyalahkan diri sendiri, berpasrah akan hukum alam dan lebih mendekatkanku kepada keyakinanku. Ia juga merubah cara berpikir dan berprilaku, tanpa disadari akan tumbuh lebih dewasa. Namun apakah masih ada kesempatan untuk berubah?

Terlalu lama menyalahkan diri akan penantian yang digunakan untuk hal yang tidak berguna. Tidak akan ada perubahan jika yang dilakukan hanya menunggu. Diriku sendiri yang dapat merubah langkah ke depanku.

Lebih baik terlambat memulai daripada tidak memulainya sama sekali. Menunggulah seperti pohon bambu yang walaupun daun dan rantingnya tidak akan bercabang ke samping dan mengganggu tanaman di sekitarnya namun ia akan tetap tumbuh menjulang ke atas.

MENUNGGU JAWABAN

            Pelajaran dalam hidup yang akan melatih kesabaran adalah Menunggu. Menunggu sesuatu dapat menjadi semangat juga dalam hidup, jika sudah pasti akan didapatkan atau terjadi. Namun, jika menunggu sesuatu yang belum pasti? Perlu kesabaran pastinya!

            Doa merupakan suatu ungkapan syukur kita kepada Tuhan dan juga kesempatan untuk meminta atau memohon kepada yang Maha Kuasa. Doa dapat dijawab langsung, ditunda, atau bahkan tidak dijawab tergantung Sang Pemilik Hidup. Ketika Doa tersebut tidak dijawab secara langsung, iman dan kepercayaan kadang menjadi goyah. Pastinya, Manusia ingin semua Doa yang disampaikan dapat diwujudkan karena menurut si pendoa, hal yang didoakan adalah yang terbaik buat dirinya.

            Hal yang lainnya, menunggu jawaban dari Manusia, seperti menunggu jawaban cinta dan menunggu janji seseorang, merupakan hal yang sangat menguras energi. Ditolak cinta atau tidak ditepati janji, pasti hal yang sangat dihindari. Namun, berbicara dengan jawaban dan waktu yang berhubungan dengan Manusia sebenarnya sangat sulit untuk diprediksi, karena hati seseorang siapa yang tau?

            Kedua contoh hal tersebut dalam hal menunggu, baik dari Tuhan atau Manusia adalah suatu rangkaian hidup yang pasti terjadi. Kesemua itu berhubungan dengan kepercayaan dan harapan. Kepercayaan kita kepada Tuhan dan manusia dapat mengecewakan, namun jika kita menggantukan semuanya dalam suatu kekuatan harapan, pasti akan menenangkan. Menunggu sesuatu harus diikat dengan harapan, Harapan adalah sesuatu kekuatan yang paling kuat di dunia ini karena menjadi kekuatan bagi pribadi yang memiliki. Berbeda dengan ekspektasi, di dalam suatu harapan terdapat kepasrahan sehingga segala sesuatu yang terjadi akan selalu diterima.

            Jadi, menunggu sesuatu yang baik dapat dijadikan suatu kekuatan dalam hidup, jika proses tersebut terdiri dari kepasrahan dalam jawaban yang akan terjadi dalam suatu bentuk kekuatan, yaitu Harapan. Harapan juga harus terus mengalir, seperti sungai yang tak pernah kering walaupun kondisi cuaca terus berubah.