Dari Kegelapan Menuju Cahaya

Aung San Suu Kyi, dari negara tetangga, Myanmar, dengan gelar “The Lady” menerima penghargaan nobel perdamaian atas perjuangannya. Suu Kyi memajukan demokrasi di negaranya tanpa kekerasan yang menentang rezim militer. Kisah lainnya dari negeri yang terkenal akan dunia perangnya, Pakistan. Malala Yousafzai, gadis belia yang tumbuh di bawah pemerintahan Taliban. Murid sekaligus aktivis pendidikan dan aktivisme hak-hak perempuan di negaranya. Wanita-wanita ini hidup di lingkungan serba terbatas bagaikan sekuntum bunga yang mekar di semak belukar. Keberanian dan semangat juang yang membuat mereka tumbuh subur.

Tak tertinggal kisah dari bumi pertiwi, tanah air yang kucintai, Indonesia. Menilik kembali sejarah salah satu pejuang wanita di Indonesia, Raden Ajeng Kartini, kelahiran Jepara, Jawa Tengah yang juga memberikan kesan mendalam dibalik sosok lemah lembutnya. Jujur saja hati ini terketuk kembali. Dari bangku sekolah sudah diperkenalkan perjuangannya di pelajaran sejarah namun saat itu hanya sebatas hapalan agar dapat nilai bagus. Setelahnya tidak ada makna yang terserap. Memperingati hari Kartini tiap tahun dan menyanyikan lagunya namun jika tidak memahami semangat beliau rasanya kurang pantas bagi seorang wanita Indonesia yang menerima pendidikan tinggi dengan bebas di era ini. Hal ini berlaku bagi saya.

Singkat cerita, Kartini berasal dari kalangan priyayi, bangsawan Jawa. Putri mulia yang berhasil mengenyam pendidikan sampai umur 12 tahun. Kepiawaiannya berbahasa Belanda membawa ia mengenal cara berpikir wanita-wanita modern Eropa yang mempunyai hak sama dengan kaum Adam. Kartini kerap berkorespondensi dengan teman-temannya di Belanda. Tersirat perempuan Indonesia dengan status sosial yang rendah, beliau memperjuangkan wanita Indonesia untuk mendapat kebebasan dan persamaan derajat memperoleh pendidikan. Kecintaan dan kepatuhannya pada kedua orangtuanya, ia dipingit di umur 24 tahun dan meninggalkan cita-citanya untuk melanjutkan studi di Belanda. Tidak patah semangat dan beruntung suami Kartini mendukung cita-citanya. Akhirnya berdirilah sekolah Kartini di Rembang. Kartini meninggal di usia muda 25 tahun. Setalah wafat, surat-surat Kartini dibukukan dengan judul “Door Duisternis tot Licht” yang artinya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.

Selain melahirkan semboyan “Habis gelap terbilah terang“, masih banyak nasehat Kartini dalam buku maupun suratnya yaitu:

–  Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni.

– Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan rasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri.

– Lebih banyak kita maklum, lebih kurang rasa dendam dalam hati kita. Semakin adil pertimbangan kita dan semakin kokoh dasar rasa kasih sayang. Tiada mendendam, itulah bahagia.

– Saat suatu hubungan berakhir, bukan berarti 2 orang berhenti saling mencintai. Mereka hanya berhenti saling menyakiti.

– Ikhtiar! Berjuanglah membebaskan diri. Jika engkau sudah bebas karena ikhtiarmu itu, barulah dapat engkau tolong orang lain.

Sudah lebih mengenal ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia kan? Berpanduanlah akan semangat dan kegigihan Kartini.

Advertisements

One thought on “Dari Kegelapan Menuju Cahaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s