MIMPI DAN NYATA

            Saya berjalan mendaki pagi ini untuk bertemu dengan rekan bisnis, membahas kemajuan bisnis yang ada. Bisnis berjalan dengan sangat baik, tanpa diduga, kami mendapatkan keuntungan 300% dalam 3 bulan terakhir. Namun, bunyi suara alarm pun terdegar dan membuat ku terjaga, ternyata cerita tersebut hanya kehidupan di dalam pikiran selama tertidur. Itulah mimpi indah yang dialami, penuh keuntungan.

            Mimpi tidak semua berisi hal yang indah tapi ada juga mimpi buruk yang sama sekali tidak diharapkan terjadi. Mimpi buruk tersebut sering menggangu tidur, sehingga sering membangunkan secara mendadak, seperti mimpi jatuh dari ketinggian. Waktu dalam mimpi buruk diharapkan segera berakhir, namun mimpi yang indah diharapkan berlangsung lama. Waktu memang tidak bisa diberhentikan dan dipercepat, oleh karena itu perlu selalu dinikmati.

            Namun, waktu yang selalu diharapkan adalah waktu yang bahagia. Waktu bahagia terbentuk sebagai hasil dari waktu-waktu perjuangan yang telah dilewati. Kebanyakan orang selalu melihat kesuksesan seseorang hanya dari hasil yang telah dicapai, namun tidak dari proses yang telah dilewati. Keadaan atau waktu yang dimiliki orang sukses tersebut diantaranya terdiri dari, waktu-waktu perjuangan dan juga mimpi-mimpi buruk.

            Menikmati waktu dan keadaan yang ada secara positif akan melahirkan hal yang positif. Tidak seperti rumus matematika bahwa minus harus dilawan dengan minus untuk mendapatkan positif. Ya itulah hidup, tidak ada rumus bakunya, hanya ada ramuannya saja, namun itupun kalau diracik dengan benar.

            Keadaan yang buruk jika terjadi dalam hidup dapat diatasi dengan mudah jika dinikmati. Bagaimana menikmatinya? Hal yang terjadi tersebut memang jalur yang harus kita lewati. Jalan tersebut harus dinikmati karena akan mengakibatkan kaki anda dapat dengan mudah melangkah dan juga akan melahirkan kulit kaki yang kuat, tebal, namun sensitif. Sensitifitas sangat penting agar anda tidak kembali ke keadaaan tersebut.

            Waktu yang buruk dapat dilewati semudah anda mengakhiri mimpi buruk anda, yaitu terbangun!! Bangun lah dari pemikiran buruk anda dan nikmatilah Waktu yang telah disediakan karen hidup cuma sekali tidak pantas diisi dengan kesusahan!

Berjalan Seiring Waktu

Kereta melaju kencang di hadapanku, meninggalkan angin dan sedikit debu menampar wajahku. Waktu masih menunjuk di menit 45. Rasanya jadwal kereta di stasiun ini adalah 7:45, mengapa di menit 45 juga kereta sudah menancap gas dan membunyikan klaksonnya yang terdengar sampai di ujung lorong meninggalkan stasiun ini? Ataukah waktuku dan dia terpaut beberapa detik sehingga kami tidak akan pernah selaras, selalu bertengkar dan meributkan hal sepele yang nyatanya adalah perbedaan waktu itu? Atau ada alasan lain dibalik semua keributan ini?

Rasanya cukup lelah memikirkan waktu itu. Waktu yang seakan tak mungkin kukejar. Tapi jika dipikir kembali seberapa berharganya waktu itu? Bukankah fokus apa yang kukerjakan saat ini lebih berharga? Karena apa yang kukerjakan sekarang yang menentukan arah kedepannya. Bukan ramalan ataupun pemikiran orang lain yang mengarahkan masa depanku. Beberapa orang mengatakan bukan seberapa lama kita hidup di dunia ini untuk menentukan kualitas hidup kita namun seberapa banyak hal baik yang telah kita lakukan.

Apa yang terjadi jika aku berhasil naik ke kereta tadi? Bukan berarti waktu kami akan sama dan tidak akan ada pertikaian. Semuanya tergantung tindakanku terhadap suatu masalah. Aku bisa mengarahkannya menjadi lebih baik atau bahkan memperburuknya. Apakah aku sudah memikirkannya dengan matang sebelum bertindak? Waktu itu layaknya pikiran yang sama-sama adalah benda abstrak, tidak berwujud, yang agak sulit dikontrol dan digapai. Tapi tidak semua hal harus aku pikirkan juga. Lebih baik aku melepaskannya, membiarkannya mengalir. Fokus untuk saat ini, di mana ketika kumerasa tidak ada yang sedang dilakukan namun kubisa menilik diriku sendiri bahwa ku sedang bernafas dan itulah yang harus kusadari saat ini.
Jangan terlalu menuntut lebih dirimu ketika kau rasa itu adalah yang paling maksimal.

Waktu itu adalah uang. Mungkin benar buat para pekerja yang menghabiskan waktunya di tempat kerja untuk menumpukkan pundi uangnya. Namun ku lebih memihak untuk berdiri di sini, berjalan seiring dengan waktu, memilih berdamai dengan diriku sendiri. Mengumpulkan pengalaman dan pelajaran sebanyak kemampuanku di masa ini. Jikapun itu tidak sesuai harapan, kubiarkan waktu juga yang walaupun perlahan tapi pasti mengobati luka yang pernah tergores itu. Kelak semuanya akan indah pada waktunya.

Dikala senja menyapa kuberharap ku tak takut lagi, kubiarkan perasaan itu terbenam bersama mentari.

TATAPAN MASA DEPAN

            Wanita merupakan Ciptaan Tuhan yang sangat Indah dan dipuja-puja oleh Pria sebagai Teman Hidup. Sebagai tulang rusuk yang hilang, wanita merupakan penentu dalam suatu keluarga. Pria yang sukses selalu memiliki seorang wanita yang selalu berdoa untuk kesuksesannya.

            Salah seorang wanita ternama di Indonesia adalah Raden Adjeng Kartini. Anak dari Bupati Jepara pada jamannya ini, juga merupakan keturunan Bangsawan Jawa. Kartini memberikan pengaruh besar melalui tulisan-tulisan suratnya yang kemudian dirangkum menjadi Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya” atau yang lebih terkenal sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

            Terang yang sangat berdampak bagi orang banyak terutama Wanita dalam melakukan emansipasi wanita. Ada kekuatan wanita yang tidak dapat dimiliki oleh Seorang Pria, oleh karena itu sentuhan wanita sangat dibutuhkan di setiap segmen hidup, terutama dalam memancarkan kasih sayang.

            Pribadi yang anda memiliki sekarang ini merupakan hasil dari perjuangan darah seorang wanita, yaitu Ibu. Kasih sayang yang diberikan kepada Anda hanya semata-mata untuk memberikan Masa Depan Anda yang lebih baik dari Dia.

            Tatapan Masa Depan yang Ibu harapkan ke Anda, merupakan Kasih Sayang Tuhan yang dipancarkan melalui Manusia. Jika Anda adalah Wanita, apakah Anda tidak merasakan Karunia yang Tuhan berikan?

            Jangan pandang Masa Lalu Anda jika memang buruk, pandanglah tujuan hidup Anda di dunia Ini. Anda diciptakan untuk melengkapi suatu hubungan, untuk menunjukkan kasih sayang, dan sudah pasti menjadi berkat. Jadi jangan sampai ada orang yang menghalangi anda untuk melakukan hal tersebut. Pakai diri Anda semaksimal mungkin, karena hidup anda tidak ada istilah “Continue?” jika sudah meninggal.

            Ingat, Sehabis Gelap adalah Terang dan Sehabis Badai adalah Pelangi. Menarilah dalam Hujan karena itu merupakan Karunia Tuhan yang kita patut nikmati. Jangan bilang Anda sudah terlambat, Kartini saja hanya hidup 25 Tahun di Dunia ini, namun sudah memberikan dampak yang luar biasa, Apalagi Anda yang masih diberikan hidup Panjang!!

Bangkitlah wahai Wanita yang Cantik! Anda adalah semangat Dunia!

Dari Kegelapan Menuju Cahaya

Aung San Suu Kyi, dari negara tetangga, Myanmar, dengan gelar “The Lady” menerima penghargaan nobel perdamaian atas perjuangannya. Suu Kyi memajukan demokrasi di negaranya tanpa kekerasan yang menentang rezim militer. Kisah lainnya dari negeri yang terkenal akan dunia perangnya, Pakistan. Malala Yousafzai, gadis belia yang tumbuh di bawah pemerintahan Taliban. Murid sekaligus aktivis pendidikan dan aktivisme hak-hak perempuan di negaranya. Wanita-wanita ini hidup di lingkungan serba terbatas bagaikan sekuntum bunga yang mekar di semak belukar. Keberanian dan semangat juang yang membuat mereka tumbuh subur.

Tak tertinggal kisah dari bumi pertiwi, tanah air yang kucintai, Indonesia. Menilik kembali sejarah salah satu pejuang wanita di Indonesia, Raden Ajeng Kartini, kelahiran Jepara, Jawa Tengah yang juga memberikan kesan mendalam dibalik sosok lemah lembutnya. Jujur saja hati ini terketuk kembali. Dari bangku sekolah sudah diperkenalkan perjuangannya di pelajaran sejarah namun saat itu hanya sebatas hapalan agar dapat nilai bagus. Setelahnya tidak ada makna yang terserap. Memperingati hari Kartini tiap tahun dan menyanyikan lagunya namun jika tidak memahami semangat beliau rasanya kurang pantas bagi seorang wanita Indonesia yang menerima pendidikan tinggi dengan bebas di era ini. Hal ini berlaku bagi saya.

Singkat cerita, Kartini berasal dari kalangan priyayi, bangsawan Jawa. Putri mulia yang berhasil mengenyam pendidikan sampai umur 12 tahun. Kepiawaiannya berbahasa Belanda membawa ia mengenal cara berpikir wanita-wanita modern Eropa yang mempunyai hak sama dengan kaum Adam. Kartini kerap berkorespondensi dengan teman-temannya di Belanda. Tersirat perempuan Indonesia dengan status sosial yang rendah, beliau memperjuangkan wanita Indonesia untuk mendapat kebebasan dan persamaan derajat memperoleh pendidikan. Kecintaan dan kepatuhannya pada kedua orangtuanya, ia dipingit di umur 24 tahun dan meninggalkan cita-citanya untuk melanjutkan studi di Belanda. Tidak patah semangat dan beruntung suami Kartini mendukung cita-citanya. Akhirnya berdirilah sekolah Kartini di Rembang. Kartini meninggal di usia muda 25 tahun. Setalah wafat, surat-surat Kartini dibukukan dengan judul “Door Duisternis tot Licht” yang artinya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.

Selain melahirkan semboyan “Habis gelap terbilah terang“, masih banyak nasehat Kartini dalam buku maupun suratnya yaitu:

–  Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni.

– Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan rasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri.

– Lebih banyak kita maklum, lebih kurang rasa dendam dalam hati kita. Semakin adil pertimbangan kita dan semakin kokoh dasar rasa kasih sayang. Tiada mendendam, itulah bahagia.

– Saat suatu hubungan berakhir, bukan berarti 2 orang berhenti saling mencintai. Mereka hanya berhenti saling menyakiti.

– Ikhtiar! Berjuanglah membebaskan diri. Jika engkau sudah bebas karena ikhtiarmu itu, barulah dapat engkau tolong orang lain.

Sudah lebih mengenal ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia kan? Berpanduanlah akan semangat dan kegigihan Kartini.

Matahari yang Memberikan Keberuntungan

Menyambut bulan ujian nasional, errol pun mengangkat tema mengenai ujian di minggu ini. Salah satu admin errol juga ikut meramaikannya. Yapp, entah karena sudah lama terlena akan dunia kerjaan atau apa, dunia yang sepertinya selalu statis karena masih di titik yang sama walaupun sebenarnya begitu banyak proses di dalamnya. Ketika dihadang ujian pastinya akan ada perasaan gugup dalam diri ini. Namun ujian kali ini sebenarnya adalah pilihan. Sedang mencoba untuk merubah jalan ke depannya namun harus fokus akan prosesnya saat ini.

Sebelum menentukan tanggal ujian, ada begitu banyak pertimbangan. Sementara waktu terus berjalan. Semakin terdesak semakin cepat keputusan harus dibuat. Sampai akhirnya tanggal ujian ditetapkan dan banyak persiapan yang harus dilakukan khususnya latihan. Dengan latihan akan membuatmu terbiasa. Ingin rasanya segera menyelesaikan ujian itu. Di sisi lain, khawatir juga waktu berlalu dengan cepat karena merasa belum ahli. Bagiku, semakin cepat semakin bagus. Banyak to-do list yang akhirnya harus di-pending dulu. Waktunya menyusun kembali prioritas yang ada.

Begitu banyak tips yang tersedia untuk menghadapi ujian itu, namun rasanya seperti teori. Apakah harus sering ujian untuk mengalahkan kegugupan ini? Tidak juga, dengan persiapan matang dan latihan yang dilakukan, sedikit banyak akan membantu. Sesekali cobalah untuk tersenyum untuk mencairkan ketegangan yang ada. Waktunya belajar maka belajarlah, sesekali berikan penghargaan atas usaha yang telah kamu lakukan, bersantailah sebentar.

Seperti ajaran sederhana dari Ajahn, ketika kamu mengangkat gelas berisi air dalam 1 menit maka kamu akan merasa enteng. Dalam beberapa menit ke depan, kamu akan mulai merasa kesakitan dan tanganmu mulai kesemutan. Apa yang harus kamu lakukan? Mengapa tidak coba kamu letakkan sebentar gelas itu dari genggamanmu? Maka ketika kamu mengangkatnya kembali, kamu akan merasa lebih mudah untuk beberapa menit ke depannya.

Dan saatnya menanti hasil. Hasil jelek akan membuatmu untuk mengetahui kesalahanmu dan belajarlah darinya. Hasil bagus janganlah membuatmu bangga hingga lupa akan daratan. Peruntungan juga turut andil untuk hasilnya. Biarlah bunga matahari ini memberikan sinar keberuntungannya.

JALAN HIDUP

              Subuh, Badan seakan tidak mau beranjak dari nikmatnya Pulau Kapuk. Ingin terus terbuai dalam mimpi yang sangat menyenangkan diri. Perjalanan tetap harus terus berjalan kalau tidak bisa dikalahkan oleh Ibu-Ibu yang akan mendayung perahunya di Sungai Martapura. Yap, Ibu-ibu R**I OKE akan segera berjualan untuk mencukupi kebutuhannya.

              Pasar terapung yang mulai termakan oleh zamannya dan terusik oleh kemajuan dunia modern, seakan menunjukkan bahwa semua ada waktunya di dalam kehidupan yang fana ini. Kehidupan yang diberikan adalah anugerah yang selalu harus disyukuri dan tentunya harus dijalani. Namun, apakah semua akan sesuai harapan dan apakah akan statis saja dengan keadaan yang sama? Tidak mungkin! Perubahan itu pasti, tapi tidak semua perubahan dianggap sebagai kesempatan untuk maju.

              Perubahan merupakan satu hal yang tidak mungkin tidak terjadi, sepertinya tubuh ini, setiap detik terjadi perubahan untuk melakukan perkembangan dan juga mengatur metabolisme tubuh. Layaknya, Ibu-ibu yang mendayung di Pagi hari untuk berjualan di Sungai Martapura tersebut pasti mengharapkan terjadinya perubahan. Hal yang pasti mereka harapkan ketika mengayuh adalah Barang Dagangannya harus habis. Pasti tujuannya untuk makan dan juga untuk biaya primer lainnya.

              Jalan Hidup, Ibu-ibu tersebut dan juga Saya di Subuh tersebut pasti berbeda, saya ingin menangkap Indahnya suasana pagi di Sungai tersebut, Ibu tersebut ingin berjualan. Sungguh sudut pandang dan perjalanan hidup yang sangat berbeda, tapi apakah keduanya sama-sama bahagia? Belum tentu, di kisah yang lain, mungkin ketika sama-sama ingin menuju ke suatu tujuan yang sama, satu dapat bahagia, sedangkan yang lain tidak. Meskipun, Alasan dan tempatnya sama.

              Perjalanan hidup seorang yang mengikuti norma-norma dan ajaran agama yang ada dengan benar, pasti juga mendapatkan tantangan dan ujian. Kenapa? Justru itulah gunanya ajaran yang telah dia terima baik dari Kitab Suci maupun dari Panduan laiinya, yaitu Untuk Kuat melewati Kehidupan. Tidak ada kehidupan yang tanpa hambatan, tapi ada kehidupan yang selalu memiliki solusi dan damai sejahtera.

              Jadi, Jangan menggangap perjalanan hidup Anda adalah sesuatu musibah tapi semuanya itu adalah Karunia! Hidup adalah untuk memberkati orang lain.

Seperti Ibu Pedagang di Pasar Lok Baintan yang mengayuh bersama 3 bakul Buah untuk berjualan sejak subuh hari, seperti itulah semangat kalian wahai Jiwa-jiwa penuh karunia!

SENDIRI TAPI RAMAI

              Sebuah perjalanan pasti punya ceritanya masing-masing, seperti kisah perjalanan Errol berikut. Sebagai Seorang Pengembara, Perjalanan pasti selalu akan dipilih dengan bersama atau hanya seorang diri. Perjalanan ini saya lalui dengan seorang diri, namun hanya awalnya saja.

              Pukul 22.00 WIB, saya tiba di Terminal Bondowoso, seorang diri. Sudah larut malam, sudah pasti tertinggal Angkutan terdekat yang dapat mengantarkan saya ke tujuan, yaitu Gunung Ijen. Sejenak berhenti di pinggir terminal, mencari cara untuk dapat menuju Paltuding (titik awal pendakian Gunung Ijen). Kemudian, Saya melihat seseorang Bapak dan Keponakannya di pinggir jalan dan kemudian saya bertanya untuk menuju Paltuding. Tanpa disangka, Kami satu kampung, lalu mulai lah kami berbincang dengan Bahasa Daerah. Lalu, Naek Ojek merupakan solusinya, Ojek tersebut dipesankan oleh Bapak tersebut, bukan pakai Aplikasi Online, karena belum ada.

              Sebesar Rp 160.000 keluar dari dompet saya yang tipis seperti oksigen yang mulai menipis, untuk menuju Paltuding. 2.5 Jam perjalan dilalui dengan Sepeda Motor, yang tenaganya seperti Kakek-kakek. Tas yang besar menjadi beban juga ketika duduk di motor bebek tersebut. Rasa Panas di Bokong dan Dingin di Kaki, bercampur aduk selama perjalanan tersebut. Pukul 01.30 WIB, sampai juga di Paltuding, yang sangat sepi. Saya pun beristirahat hingga pukul 03.00 WIB, lalu memulai pendakian ke Puncak Ijen dan melihat Blue Fire.

              Tas sebesar 75 Liter pun menemani Saya mendaki bersama dengan Turis lainnya. Istirahat yang kurang optimal, mengakibatkan saya harus banyak berhenti selama 1 jam awal. Udara dingin dan Oksigen yang tipis tidak menghalangi saya, untuk melihat Blue Fire. Akhirnya dengan perjuangan yang gigih, Saya dapat mengambil Gambar Cahaya Biru nan Cantik. Cahaya yang menjadi incaran para turis yang mengunjungi Ijen.

              Saya memang sendiri menuju puncak, namun Saya mengikuti rombongan Tiga Orang Bapak-Bapak. Rombongan tersebut dipandu oleh satu orang Guide. Saya berbicara banyak kepada Guide tersebut ketika dia sedang menunggu Bapak-Bapak tersebut mengambil Gambar. Seorang yang ramah dan juga yang banyak menceritakan saya tentang Bagaimana perjuangan seorang penambang Belerang. Penambang Belerang akan Anda temui ketika mendaki Ijen dan Anda mungkin akan menggelengkan kepala melihat beban dan jarak yang harus ditempuh. Sebuah penghasilan yang didapatkan dengan mengorbankan banyak tenaga.

              Saya sempat juga berbicara dengan seorang Penambang Belerang, yang memiliki bentuk pundak yang sangat unik. Pundak tersebut terbentuk sebagai hasil beban yang dipikul setiap harinya, 60-80 KG. Kulit Pundaknya menebal dan menjadi kuat sekali. Siapa disangka, Penambang tersebut bercerita bahwa harus memijat tubuhnya dua hari sekali. Wajar saja menurut saya, karena dengan beban tersebut dan frekuensi pengambilan tambang sekitar 1-2 kali dengan jarak 3 KM dari Paltuding ke Kawah Ijen, pasti akan memakan tubuh. Penambang tersebut memberikan sebuah pelajaran dalam hidup jika kita banyak mengeluh, bahwa Semua Orang punya masalah sendiri-diri, selama kita banyak mengeluh coba lihat kehidupan Orang lain yang mungkin lebih keras dari kita, sehingga kita dapat bersyukur kepada Tuhan dengan hidup yang ada.

              Setelah menikmati Keindahan Ijen, maka Pulang dari Paltuding menjadi pemikiran saya selanjutnya. Selama perjalanan turun dari Kawah Ijen, saya tetap bersama dengan Rombongan Tiga Bapak-bapak. Suasana pun menjadi sangat akrab, saya banyak bercerita dengan mereka. Mereka pun heran kenapa saya bias sendirian saja ke sana. Saya pun menjawab: “Perjalanan sendiri memiliki pengalaman yang sangat berbeda dan tidak dapat dilupakan”. Namun, Perjalanan sendiri tersebut tidak menimbulkan perasaan bahwa saya sendiri, karena banyak orang-orang yang menemani saya selama perjalanan. Bapak-bapak itu pun, menawarkan saya untuk pulang bersama dari Ijen dan mengantarkan Saya hingga terminal Ijen, agar saya dapat melanjutkan perjalanan. Hal yang terutama adalah Gratis! (hehehe)

              Perjalanan sendiri ini sangat menarik, menantang, memberikan Saya banyak Teman Baru tanpa diduga, dan sama sekali tidak memberikan kesendirian tapi keramaian. Perjalanan ini juga dihadiahi dengan Jempol oleh Bapak Guide tadi, yang sangat banyak memberikan Cerita tentang Ijen.

Jangan takut untuk melangkah sendiri, karena Anda tidak pernah sendiri, Tuhan selalu ada bersama Anda.