Alih-Alih Khawatir

Lorong panjang berkabut itu sepertinya tidak akan pernah habis dilalui. Kaki ini pun hanya bisa berlari secepat mungkin, tidak mengenal arah, hanya mencari seberkas cahaya di ujung lorong. Beberapa kali kuterjatuh karena gelapnya lorong itu. Dan malam itu terasa begitu lama seperti pagi yang tidak mungkin kunjung datang. Pikiran dan perasaan yang melekat itu selalu hadir, tidak pernah absen sehingga menutup mata hati kecil ini untuk menggapai cahaya di ujung lorong. Capaikah kamu?

Khawatir, pikiran dan perasaan inilah yang selalu dibawa dan disetiakan. Ketika kedua mata ini terbuka di pagi hari, tanpa disadari khawatir itu duluan menyapa. Terkadang khawatir mengalahkan rasa syukur. Seperti hujan di pagi hari, khawatir mulai menggerogoti pikiran ini. Apakah nantinya menyebabkan banjir, macet dan akhirnya akan kesiangan ke kantor? Mungkin sebagian lagi akan resah jika rumah dan sekitarnya terendam banjir. Bagaimana kalau cuaca cerah? Khawatir juga perjalanan akan terhambat dan lain sebagainya. Intinya pasti ada rasa khawatir tersebut. Mungkin sudah lama tertutup gelapnya lorong itu sehingga kita lupa tuk menyiram perasaan dan pikiran kita, salah satunya dengan bersyukur. Mungkin juga kita sudah beradaptasi dan bermutasi dengan gelapnya lorong itu.

Biasanya khawatir itu datang dengan sahabatnya, si takut. Ketakutan dan khawatir akan masa depan sudah menjadi makanan pokok. Ditambah bumbu keresahan apa yang dilakukan di masa lalu. Resah apa yang dilakukan sudah maksimal belum, apakah sudah menjadi orang baik, apakah menyesal, apakah dan apakahh… Begitu banyak waktunya untuk khawatir sehingga rasa gurihnya masa ini dengan cepat tertelan melewati kerongkongan keringnya.

Khawatir ini mengingatkanku akan kisah dari seorang guru yang kukenal sebagai sosok paling bahagia di dunia ini, Ajahn Brahm.

Alkisah seorang pria dikejar seekor macan di hutan. Saat macan semakin mendekat, ia melihat sebuah sumur kosong. Tanpa pikir panjang ia pun lompat ke sumur tua itu. Sayangnya ia tak tahu bahwa di dasar sumur itu terdapat ular hitam yang besar. Lalu ia pun mencoba menghentikan laju jatuhnya dengan berpegangan pada juluran akar yang kebetulan menggantung di dalam sumur itu.

Akhirnya pria itu pun terjebak dengan ular di bawah kakinya dan macan di atas kepalanya. Namun masalahnya bukan hanya itu. Selama ia merenungkan keadannya yang mengenaskan itu, ia melihat dua ekor tikus, hitam dan putih, yang keluar dari lubang kecil di dinding sumur lalu menggerogoti akar pohon yang dipegangnya. Saat sang macan menjulurkan cakarnya ke dalam sumur, tidak sengaja kaki belakangnya menggoyang sebuah pohon kecil dengan sarang lebah di salah satu dahannya. Madu pun mulai menetes ke dalam sumur. Melihat hal tersebut, pria itu mencoba meraih madu itu dengan lidahnya. Pada situasi yang hopeless tersebut, ia pun menjilat madu yang jatuh dan berkata kepada dirinya sendiri sembari tersenyum ”Mmm… Enak sekali!”.

Dari kisah itu alih-alih khawatir, kita bisa mencoba untuk pasrah dan menerima. Masa depan bukanlah hal yang pasti, mungkin saja nasib masih bisa berubah. Bisa saja macan yang hampir menerkam pria dalam sumur tadi tergelincir dan jatuh ke dalam sumur dan menimpa si ular sampai mati, dan pria itu pun bisa selamat dengan keluar memanjat akar pohon sebelum habis digerogoti tikus. Tentukanlah tujuanmu dan berjalanlah seiring dengannya. Selesaikan satu persatu permasalahan yang ada, bukan ditunda yang menyebabkan perasaan khawatir semakin berat. Satu permasalahan selesai, satu perasaan bebas yang didapat.

Advertisements

One thought on “Alih-Alih Khawatir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s