SEPASANG YANG SETIA

            Setia itu katanya seperti Romeo dan Juliet, sampai akhir hidupnya pun selalu bersama. Katanya juga seperti Hachiko yang selalu menunggu Tuannya di Stasiun Kereta Api. Kesetiaan itu melambangkan Cinta, Setia yang berarti berpegang teguh, taat, dan patuh terhadap janji atau pendiriannya. Namun keluar dari zona Cinta, Kesetiaan itu juga dapat dilihat selain dari Cinta, yaitu Setia pada Prinsip dari dalam diri sendiri.

            Pernahkah anda memiliki prinsip dalam hidup anda?, seperti Saya tidak mau merokok!, saya tidak mau menjadi Politikus, Saya tidak mau mencoblos “dia” karena beda Agama, atau saya tidak akan berhubungan dengan Mantan Saya karena itu namanya Bullshit!. Semua itu adalah salah satu prinsip yang sering diciptakan dalam diri. Namun, seberapa setiakah anda terhadap kata-kata yang anda buat sendiri itu?

            Sulit pasti kata yang sering terucap! Namun itulah yang namanya prinsip. Prinsip pasti akan diserang dengan situasi Nyaman yang menipu, dengan Kegagalan, dengan Kebahagiaan yang berlebih, dan dengan Cinta. Namun bukankah Prinsip tersebut yang menjadikan anda berbeda dengan yang lain, dan menjadi hal yang dapat membanggakan? Namun, namanya Manusia pasti ada tahap untuk jatuh baik hanya sedalam gorong-gorong atau sedalam laut biru.

            Kesetiaan dalam prinsip itu seharusnya mengakar dalam hati dan pikiran. Itu harga Mati! Dalam tanda kutip, bahwa prinsip itu adalah hal yang baik.

            Seperti halnya sandal atau sepatu, selalu memiliki pasangan, layaknya pribadi manusia yang mempunyai Hati dan Pikiran. Kadang Hati ingin ke kiri, namun pikiran selalu ingin ke kanan. Seni dalam menyeleraskan arah ini yang harus dibentuk dalam berjalannya waktu. Prinsip tidak bisa terpisahkan seperti sepasang sandal, harus bersama, tidak mungkin kaki sebelah yang hanya akan terluka dan menghadapi batu-batu tajam, namun harus bersama dan seirama.

            Roh kita memang penurut, namun Daging kita lemah. Sikap yang teguh dan keras harus dibentuk dalam diri kita jika sudah menancapkan suatu prinsip di pikiran dan hati. Jangan biarkan sandal mu hilang dari kaki mu, karena prinsip-prinsip tersebut menjadi bantalan dalam hidup anda untuk melawan kerasnya batu-batu yang ada, lembeknya pasir, dan panasnya aspal di Jalan. Justru itu yang membuat anda berbeda!

“Kesetiaan anda dalam prinsip yang anda ciptakan harus disertai dengan penguasaan diri, yaitu kesemua rancangan-rancangan yang ada, diserahkan pada Tuhan.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s