PERAHU PERTAMA

            Mata yang terbuka dan nafas yang diterima pada pagi hari menandakan kehidupan berlanjut. Kehidupan yang berlanjut berarti tanggung jawab harus dijawab dengan tindakan yang akan terjadi satu hari penuh. Saya pun menjawabnya dengan berjalan ke suatu pulau yang berada di danau buatan, Kalimantan Selatan, yaitu Pulau Pinus. Riam Kanan namanya, Danau yang merupakan sebagai sumber tenaga dari PLTA ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1973.

            Saat sampai di Pulau Pinus, terlihat sebuah perahu yang siap mengarungi danau tersebut. Layaknya hendak menaiki perahu tersebut untuk meninggalkan pulau yang ada, seperti meninggalkan masa lalu yang ada.

           Kehidupan ini diisi oleh hal yang baik dan buruk, setiap hal tersebut pernah dialami oleh setiap manusia. Hal yang buruk terjadi bertujuan untuk mewarnai hidup agar bisa menjalani hidup lebih baik lagi. Namun, untuk meninggalkan hal yang buruk dibutuhkan suatu keikhlasan dan kerelaan untuk memaafkan orang lain atau yang lebih berat adalah memaafkan diri sendiri.

           Seperti layaknya ingin meninggalkan pulau ini, sampah-sampah yang berada di sebelah perahu seperti kenangan-kenangan kelam yang seharusnya ditinggalkan untuk menyambut masa depan. Sampah-sampah tersebut menghambat langkah kita, namun terkadang sampah-sampah yang beraroma tidak sedap tersebut tidak tertangkap oleh indera penciuman kita. Mengapa demikian? Karena kita sudah terbiasa dengan hal buruk tersebut, seakan-akan tidak ada jalan untuk menghilangkannyan, seakan-akan sudah nyaman dan terbuai. Aroma yang sudah tidak tertangkap oleh diri itu, ternyata sangat menyengat bagi hidung-hidup yang ada di sekitar kita. Seakan-akan tidak merugikan diri sendiri, padahal sangat merugikan bagi orang lain.

           Perahu yang selalu disediakan oleh Tuhan sebagai jalan untuk melepas keterikatan pada dunia yang kelam, tidak dipercayai. Ragu dan takut, perahunya terlalu kecil! Bagaimana jika ada ombak? Bagaimana kalau diterpa angina yang kencang? Bagaimana bila bocor?

           Langkah pertama untuk menaiki perahu untuk meninggalkan kisah kelam yang bertujuan untuk menyambut masa depan yang baik, takut untuk dilakukan. Masa depan yang tidak jelas atau keadaan air yang tidak dapat ditebak ditengah Danau mengakibatkan takut untuk berlayar. Padahal lebih baik meningkalkan kisah kelam yang ada dibandingkan terpuruk menjadi sampah, mungkin bayangan anda lebih dahulu ingin meninggalkan kisah tersebut.

           Tuhan selalu memberikan jalan yang terbaik bagi Umat-Nya. Namun memang terkadang jalan-Nya itu tidak semulus yang kita inginkan karena ditengah jalan yang tidak mulus tersebut adalah tempaan yang harus kita rasakan agar menjadi kebal jika masalah kembali terulang.

           Pastikan Kaki Anda sudah menaiki perahu tersebut, tinggalkan pulau kelam anda, tinggalkan sampah Anda. Namun jika sudah menaiki perahu, jangan lupa untuk melepaskan ikatannya dari Pulau. Ikatan tersebut harus dilepas agar anda bisa berlayar dan tidak kembali ke pulau yang sama. Ikatan yang tidak terlepas artinya anda belum ikhlas meninggalkan kehidupan kelam tersebut.

Berlayarlah, naiki Perahu Pertama! Tuhan beserta Anda, tidak perlu takut tenggelam karena Anda masih bisa menggunakan pelampung yang ada di kapal, yang berarti harapan!

Advertisements

2 thoughts on “PERAHU PERTAMA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s