Kasih Bagaikan Cahaya Mentari

Mawar terlihat tidak sabar dan deg-deg an menanti hari di mana dia akan bertemu dengan teman barunya, teman yang lebih mengerti dan memperhatikan dirinya. Berharap akan dilepaskan bedongan yang mengikat kakinya. Menantikan kekaguman dan ciuman dari makhluk yang bernama hawa.

Hari itu adalah hari kasih sayang. Di zaman modern ini sepertinya pink bukanlah menjadi favorit bagi kaum hawa di hari itu. Banyak yang mengenakan setelan hitam. Atau sekiranya hari itu adalah hari yang sama dengan hari lainnya, hari yang spesial juga atau hanya hari biasa, hari dengan rutinitas yang sama. Alangkah baiknya jika tiap hari bisa diisi dengan mengasihi dan menyayangi sesama ciptaan kita. Hari untuk dikasihi dan disayangi sesama.

Namun jika setiap harinya adalah sama spesialnya, apakah kelak masih bisa merasakan apa yang disebut spesial jika sudah menjadi rutinitas? Bukankah spesial itu selalu unik? Menjadi unik belum tentu spesial, namun menjadi spesial pasti akan selalu unik.

Menurutku makna kasih sayang termelodi dengan indah dalam sepenggal lirik

Biarkanlah kasih sayang tersebar luas

~ Kasih sayang adalah bahasa yang tidak berwujud…
perasaan yang tidak dapat diraba…
tatapan sukacita…
terima kasih yang tak terucap…
Sebar luaskan kasih sayang, ia bagaikan cahaya mentari yang menghangatkan…. ~

Setiap mendengar alunan lagu tersebut, entah mengapa selalu akan ada buliran air mata. Ada suatu perasaan yang tidak mudah dijelaskan, namun yang kutahu itu bukanlah tangisan sedih ataupun tangisan negatif.

Advertisements

TEBING HARAPAN

            Pernahkah Anda tidak dapat mengetahui arah hidup anda ketika sudah berada di tempat yang spesial? Atau Anda pernah melihat birunya laut dari tebing namun tidak memiliki arti apa-apa? Atau Melompat dari tebing adalah hal yang anda inginkan?

            14 Februari merupakan Hari Kasih Sayang, Kematian Seorang St. Valentinius untuk melawan suatu perintah akan pernikahan menjadi alasan munculnya perayaan tersebut, namun apakah benar yang ditunjukkan pada peraayaan tersebut adalah Kasih?

            Kasih Sayang merupakan hal yang tidak akan pernah dipisahkan dari kehidupan yang fana ini. Kasih Sayang layaknya harapan tiap hari untuk mendapatkan arti hidup.

            Apakah Anda sudah menemukan orang yang dikasihi? Pasti pernah, apakah bertepuk sebelah tangan? Ataukah dikhianati? Itu hal yang pasti terjadi di dunia ini, namun belum tentu terjadi pada semua orang.

            Suatu perasaan yang mendalam seperti warna Biru Gelap di laut yang menandakan kedalaman Kasih Sayang dan Cinta, terkadang harus melewati Biru Terang yang berada di dekat Karang. Ingin rasanya langsung menyentuh kedalamannya dan berharap tidak dapat kembali lagi. Namun, terkadang tidak semudah itu, ketika sudah merasa di tepi Biru Terang, ternyata Ombak menghempaskan diri kembali ke Batu Karang.

            Benturan yang terjadi mengakibatkan lupa akan daratan dan lupa akan hidup yang sewajarnya. Kecewa! Dangkal sekali yang kudapat! Tidak ada Kelanjutannya? Bagaimana Saya bisa menyelam lagi? Lalu anda menyalahkan diri Anda, dan akhirnya kepahitan lahir. Seolah-olah Anda benci pada Kedalaman Tersebut padahal Anda benci pada diri Anda Sendiri.

            Sudahlah! Hidup Cuma sekali, tidak perlu anda penuhi dengan tangisan yang tidak akan memberikan dampak pada laut tersebut. Sekarang, Anda berada di atas Tebing Karang tersebut! Anda sudah dapat melihat Kedalaman tersebut dan melihat Kedangkalah tersebut. Yap! Jangan diulangi lagi, belajarlah dari pengalaman Anda. Kegagalan Anda bukanlah untuk ditangisi tapi untuk tidak diulangi lagi.

            Kasih yang sejati tidak akan pernah meninggalkan Anda, tetapi dia selalu ada disamping Anda biarpun jiwa dan raganya tidak disamping Anda. Dia selalu mengawasi Anda, karena Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri……..

“Kasih itu tidak berkesudahan”

Saat Ini

PERAHU PERTAMA

            Mata yang terbuka dan nafas yang diterima pada pagi hari menandakan kehidupan berlanjut. Kehidupan yang berlanjut berarti tanggung jawab harus dijawab dengan tindakan yang akan terjadi satu hari penuh. Saya pun menjawabnya dengan berjalan ke suatu pulau yang berada di danau buatan, Kalimantan Selatan, yaitu Pulau Pinus. Riam Kanan namanya, Danau yang merupakan sebagai sumber tenaga dari PLTA ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1973.

            Saat sampai di Pulau Pinus, terlihat sebuah perahu yang siap mengarungi danau tersebut. Layaknya hendak menaiki perahu tersebut untuk meninggalkan pulau yang ada, seperti meninggalkan masa lalu yang ada.

           Kehidupan ini diisi oleh hal yang baik dan buruk, setiap hal tersebut pernah dialami oleh setiap manusia. Hal yang buruk terjadi bertujuan untuk mewarnai hidup agar bisa menjalani hidup lebih baik lagi. Namun, untuk meninggalkan hal yang buruk dibutuhkan suatu keikhlasan dan kerelaan untuk memaafkan orang lain atau yang lebih berat adalah memaafkan diri sendiri.

           Seperti layaknya ingin meninggalkan pulau ini, sampah-sampah yang berada di sebelah perahu seperti kenangan-kenangan kelam yang seharusnya ditinggalkan untuk menyambut masa depan. Sampah-sampah tersebut menghambat langkah kita, namun terkadang sampah-sampah yang beraroma tidak sedap tersebut tidak tertangkap oleh indera penciuman kita. Mengapa demikian? Karena kita sudah terbiasa dengan hal buruk tersebut, seakan-akan tidak ada jalan untuk menghilangkannyan, seakan-akan sudah nyaman dan terbuai. Aroma yang sudah tidak tertangkap oleh diri itu, ternyata sangat menyengat bagi hidung-hidup yang ada di sekitar kita. Seakan-akan tidak merugikan diri sendiri, padahal sangat merugikan bagi orang lain.

           Perahu yang selalu disediakan oleh Tuhan sebagai jalan untuk melepas keterikatan pada dunia yang kelam, tidak dipercayai. Ragu dan takut, perahunya terlalu kecil! Bagaimana jika ada ombak? Bagaimana kalau diterpa angina yang kencang? Bagaimana bila bocor?

           Langkah pertama untuk menaiki perahu untuk meninggalkan kisah kelam yang bertujuan untuk menyambut masa depan yang baik, takut untuk dilakukan. Masa depan yang tidak jelas atau keadaan air yang tidak dapat ditebak ditengah Danau mengakibatkan takut untuk berlayar. Padahal lebih baik meningkalkan kisah kelam yang ada dibandingkan terpuruk menjadi sampah, mungkin bayangan anda lebih dahulu ingin meninggalkan kisah tersebut.

           Tuhan selalu memberikan jalan yang terbaik bagi Umat-Nya. Namun memang terkadang jalan-Nya itu tidak semulus yang kita inginkan karena ditengah jalan yang tidak mulus tersebut adalah tempaan yang harus kita rasakan agar menjadi kebal jika masalah kembali terulang.

           Pastikan Kaki Anda sudah menaiki perahu tersebut, tinggalkan pulau kelam anda, tinggalkan sampah Anda. Namun jika sudah menaiki perahu, jangan lupa untuk melepaskan ikatannya dari Pulau. Ikatan tersebut harus dilepas agar anda bisa berlayar dan tidak kembali ke pulau yang sama. Ikatan yang tidak terlepas artinya anda belum ikhlas meninggalkan kehidupan kelam tersebut.

Berlayarlah, naiki Perahu Pertama! Tuhan beserta Anda, tidak perlu takut tenggelam karena Anda masih bisa menggunakan pelampung yang ada di kapal, yang berarti harapan!